Langsung ke konten utama

Jangan Sia - Siakan Umur

Setiap manusia terlahir kedunia ini ada kekurangan dan ada kelebihannya, semua itu hanyalah pemberian dari Sang Khaliq. Ada yang lebih dari harta, wajah, dan sebagainya. Di ketika kita telah diberikan harta yang lebih maka jangan sia – siakan harta tersebut, ada baiknya kita pergunakan untuk tempat – tempat yang bermanfaat dalam agama. Bukanlah harta yang sudah Allah titip kepada kita untuk dipergunakan ditempat – tempat yang sama sekali tidak berguna dalam agama. Untuk apa harta begitu melimpah kalau dipergunakan hanya untuk kebutuhan duniawi dan disaat kita meninggal tak ada yang bisa ikut sama kita kedalam kubur ( hanya amalan yang ikut bersama kita ).

Begitu pula kita mempunyai wajah yang elok, janganlah kita tertipu oleh topeng yang begitu elok ( cantik / tampan ) jika disaat dalam kubur menjadi busuk ( Na’udhubillahiinzalik ). Disaat kita masih hidup kita selalu bercermin didepan kaca dan tak pernah membaca doa ( syukurlah kalau ada ), adakah kita teringat ketika ruh kita melihat tubuh dikubur sudah hancur dan ruh sangat sedih melihatnya karena tubuhnya didunia yang begitu gagah dan wajahnya yang begitu elok ( cantik / tampan). Maka janganlah bangga mempunyai wajah yang elok ( cantik / tampan ) jika di kubur menjadi makanan ulat. Tapi jangan juga merasa benci karena sudah mempunyai rupa yang elok ( cantik / tampan ) karena itu juga amanah Allah yang harus kita jaga.

Wahai saudaraku perbanyaklah mengingat kita saat berada dalam kubur yang begitu sempit dan begitu gelap, tidak ada bantuan melainkan amalan kita di dunia menjadi kubur kita luas dan terang. Ingatkan diriku bila diriku lupa...!!!
Semoga tulisan ini ada manfaat bagi penulis sendiri dan bagi pembaca semua… Aamiiin…:’(

Postingan populer dari blog ini

Taubat Tidak Hanya Di Lakukan Setelah Melakukan Dosa Besar

Itulah Mengapa Sebabnya rasululloh SAW bertaubat, dalam sehari sebanyak 100 X padahal beliau Ma'shum ( Bebas dari dosa) Menurut Imam Ghozali Tiga tingkatan taubat : 1.Taubatnya orang awam ialah taubat dari dosa dan maksiat. 2.Taubatnya orang khawas ialah taubat tidak karna melakukan dosa dan maksiat tetapi karna jarang atau lupa melakukan ketaatan yang bersifat sunah. 3.Taubatnya orang khawash al-khawas adalah taubat karena berkurangnya nilai khusyuk. Lebih umum lagi Menurut Syekh Abu Ishak Ibrahim al-Maabtuli dalam kitabnya, al-Minahu as-Saniyyah, menyebutkan bahwa taubat itu ada permulaan dan kesudahannya; taubat itu bertingkat-tingkat, ada awal dan ada puncaknya. Setidaknya ada sembilan tingkatan taubat menurut beliau. Yakni, (1) permulaan dari taubat adalah bertaubat dari dosa-dosa besar; (2) lalu bertaubat dari dosa-dosa kecil; (3) bertaubat dari perkara yang dibenci atau makruh; (4) bertaubat dari perkara yang menyimpang dari keutamaan; (5) bertaubat d...

Imam Junaid Al-Baghdadi

Junaid Al-Baghdadi, Ulama Sufi Yang Bertasauf Mengikuti Sunnah  Junaid Al-Baghdadi adalah seorang ulama sufi dan wali Allah yang paling menonjol namanya di kalangan ahli-ahli sufi. Tahun kelahiran Imam Junaid tidak dapat dipastikan. Tidak banyak dapat ditemui tahun kelahiran beliau pada biografi lainnya. Beliau adalah orang yang terawal menyusun dan memperbahaskan tentang ilmu tasauf dengan ijtihadnya. Banyak kitab-kitab yang menerangkan tentang ilmu tasauf berdasarkan kepada ijtihad Imam Junaid Al-Baghdadi. Imam Junaid adalah seorang ahli perniagaan yang berjaya. Beliau memiliki sebuah gedung perniagaan di kota Baghdad yang ramai pelanggannya. Sebagai seorang guru sufi, beliau tidaklah disibukkan dengan menguruskan perniagaannya sebagaimana sesetengah peniaga lain yang kaya raya di Baghdad. Waktu perniagaannya sering disingkatkan seketika kerana lebih mengutamakan pengajian anak-anak muridnya yang dahagakan ilmu pengetahuan. Apa yang mengkagumkan ialah Imam Junaid akan m...

Gara-gara Roti, Seorang Raja Menjadi Sufi

Kisah pertobatan Raja Balkh (Iran) Abu Ishaq Ibrahim bin Adham berawal dari keinginannya untuk berburu. Bersama kuda kesayangannya, Ibrahim menuju hutan dengan penuh gairah. Keadaan berlangsung normal hingga ketenangannya diusik oleh seekor gagak. Ibrahim sesungguhnya hanya ingin istirahat sejenak. Melepas lelah perjalanan sembari memakan roti. Sialnya, Ibrahim tak sempat mencicipi sedikit pun bekal bawaannya itu. Seekor gagak datang tiba-tiba menyambar roti, lalu membawanya terbang ke udara. Ibrahim yang kaget bercampur kagum itu memutuskan untuk mengikuti ke mana gagak pergi. Si burung hitam meluncur cepat ke arah gunung, hingga Raja Balkh nyaris saja tak menemukannya lagi. Tapi tekad Ibrahim bin Adham untuk menaklukkan segala rintangan gunung membuatnya tak kehilangan jejak. Tapi gagak tetaplah gagak. Jerih payah sang raja untuk mendekatinya mendapat penolakan. Sekali lagi, gagak mengudara, kabur menghilang entah ke mana. Di saat bersamaan, Ibrahim bin Adham men...