Langsung ke konten utama

Jalan Shufi

Para ulama besar sufi terkemuka yang semula menolak tasawuf seperti

Ibnu Athaillah as-Sakandari

Sulthanul Ulama Izzuddin Ibnu Abdis Salam

Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’rani, dan

Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali

Dan banyak lagi ulama lainnya akhirnya harus menyerah pada pengembaraannya sendiri. Ternyata dalam proses perjalanan menuju kepada Allah tetap membutuhkan seorang Guru Mursyid yang berperan sebagai pembimbing pembuka futuh (pembuka pintu ma'rifat)

(diantara mereka akhirnya menempati kedudukan Wali quthub al ghouts, raja para wali di masanya)

Terkadang seorang ulama terlalu tinggi hati untuk berguru kepada ulama lain yang telah mencapai derajat ma'rifat, karna takut jatuh martabatnya dihadapan mahluk, takut diketahui orang karna berguru pada orang lain, merasa cukup ilmu, hafalbanyak hadist, ahli fiqih, sudah mempeajari banyak kitab kuning, semua karna kesombongan dan ego yang tinggi, menganggap diri sudah alim sehingga tidak perlu lagi berguru,

Mari dulurku sedanten kita belajar dari kisah hujatul islam Imam ghozali pengarang kitab ihya ulumuddin

Ketika beliau mengetahui ada seorang ulama yang telah mencapai derajat ma'rifat Kepada Alloh maka dengan segala kerendahan hati beliau langsung berguru kepada ulama tersebut, semua perintah gurunya langsung dilaksanakan dengan ihlas tanpa membantah sedikitpun padahal ulama yang akan menjadi guru dari imam ghozali adalah ulama tradisional / ulama ndeso yang jauh dari terkenal / tidak populer sama sekali dan ulama tersebut bekerja sebagai penjual daging dipasar.

Pada masa itu Imam ghozali sudah terkenal sebagai seorang ulama besar yang alim cerdas dan gudangnya ilmu, bahkan sudah setingkat dosen / profesor dibidang agama, muridnya pun sangat banyak ratusan bahkan ribuan namun beliau begitu rendah hati mau berguru kepada ulama ndeso yang sama sekali tidak terkenal, seorang penjual daging namun akhirnya kerendahan hatinya berbuah manis, sehingga setelah selesai berguru dalam waktu yang singkat maka futuhnya sudah terbuka dan beliau mencapai derajat ma'rifat, mendapat pancaran nur ilahiyah, menjadi salah satu wali Alloh.

Nah..... bagaimana dengan kita?

Apakah kita sehebat imam ghozali?

Ilmu kita tidak ada seujung kuku dengan beliau, namun kita sudah sombong

Sudah bangga dengan secuil ilmu yang tidak seberapa

Sudah neko neko padahal bodoh

AstaghfiruLLohal adhim..

“Barangsiapa menempuh jalan Allah tanpa disertai seorang guru (Mursyid kamil mukammil) maka gurunya adalah syetan”

Jalan ma’rifat itu tidak bisa begitu saja ditempuh hanya dengan mengandalkan pengetahuan akal rasional,tidak cukup mengandalkan ilmu fiqih hafal kitab kitab dan teori agama semata kecuali hanya akan meraih Ilmul Yaqin belaka, belum sampai pada tahap Haqqul Yaqin. Alhasil mereka yang merasa atau mengaku sudah sampai kepada Allah (wushul) padahal tanpa bimbingan seorang Mursyid, wushul-nya bisa dikategorikan sebagai wushul yang penuh dengan tipudaya.

Bukan wushul yang sebenarnya/ bujukan iblis

Sabda Nabi SAW

الشَّرِيْعَةُ بِلاَ حَقِيْقَةُ عَاطِلَةُ وَالْحَقِيْقَةُ بِلاَ شَرِيْعَةٍ بَاطِلَةٌ

“Bersyariat tanpa berhakikat sia-sia (kosong/hampa) dan berhakikat tanpa bersyariat batal (tidak sah).

Imam malik

مَنْ تَفَقَّهَ بِغَيْرِ تَصَوُّفٍ فَقَدْ تَفَسَّقَ وَمَنْ تَصَوُّفَ بِغَيْرِ تَفَقُّهٍ فَقَدْ تَزَنْدَقَ وَمَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَحَقَّقَ

Artinya:Barangsiapa mempelajari fiqih saja tanpa mempelajari tasawuf maka dihukumkan fasiq, dan barangsiapa mempelajari tasawuf saja tanpa mempelajari fiqih maka dihukumkan zindiq (menyimpang dari ajaran agama). Dan barangsiapa yang mempelajari kedua-duanya niscaya ia menjadi golongan Islam yang sesungguhnya.

Dalam alam metafisika sufisme, mereka yang menempuh jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid, tidak akan mampu membedakan mana hawathif-hawathif (bisikan-bisikan lembut) firasat firasat yang datang dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin. Di sinilah jebakan-jebakan dan tipudaya penempuh jalan sufi muncul,sering terjadi Seorang yang sedang melakukan perjalanan ruhani latihan latihan mengendalikan hawa nafsu (riadhoh) suluk, tirakat, untuk membersihkan hati namun ditengah tengah perjalan dia mengalami keajaiban keajaiban bisa melihat bermacam macam hal hal ghaib yang menakjubkan

Berbagai pusaka pusaka alam jin harta karun di alam ghaib,bisa membaca hati orang, melihat masa depan, akhirnya terlena dan lebih tertarik untuk berkecimpung dan mendalami ilmu gaib dan metafisika sehingga tidak lagi berminat/bahkan lupa untuk meneruskan perjalanan menuju ALLOH, alhasil bermula dari seorang shufi tapi karna terlena dengan godaan godaan di tengah perjalanan maka berakhir menjadi seorangDUKUN atau Paranormal, Kyai mistik,tidak lagi berhasrat menempuh jalan menuju ALLOH, menjadi takabur merasa sudah sakti dan bangga menjadi terkenal (sum'ah) terjebak di jala jala iblis karna dia tidak punya guru pembimbing yang mengawasi dan mengarahkan perjalanan spiritual nya, atau mungkin durhaka dan membangkang kepada gurunya, tidak patuh perintah guru dan memilih jalannya sendiri maka pada akhirnya kehebatan yang didapatnya menjadi ISTIDROJ

Dimensi alam ghaib mistik METAFISIKA menempati tingkatan ke 6 padahal untuk sampai ke gerbang pintu thoriqoh yang sesungguhnya harus bisa melewati setidaknya 11 tingkatan.

Seorang shufi (salik) sudah pasti mengalami keajaiban keajaiban pengalaman ghoib mistik yang sekilas nampak luar biasa dan dahsyat, tinggal sang shufi kuat atau tidak menghadapi ujian tersebut jika kuat bertahan (tidak tergoda) pada akhirnya InsyaAlloh sampailah seorang salik menuju gerbang puncak Thoriqoh,

Bisa Ma'rifat atau tidak semua Hak mutlak dari Alloh, sudah menjadi ketentuan Alloh sejak Azaly, jika seorang salik tak kuat dan terbuai godaan alam gaib jadilah paranormal / dukun/ kyai mistik dan suka ceplas ceplos mengabaikan syariat, suka mengumbar dan membuka aib orang, tidak mampu menyimpan rahasia rahasia yang diberikan padanya.

KETAHUILAH Bahwa Pangkat wali itu sudah ada jatah nya sejak azaly jika ada seorang murid shufi menempuh tasawuf dengan tujuan ingin menjadi wali maka tertolaklah jerih payahnya, derajat kewalian itu sudah ada jatahnya,sudah ada stempel / cap tanda kewalian, tidak bisa direbut atau dikejar kejar, bahkan nasab keturunan pun tidak bisa dijadikan jaminan.

Syeikh HIWARI pernah menjadi perampok, namun karna sudah ada cap stempel kewalian maka dengan izin Alloh akhirnya diangkat menjadi wali.

Raden syahid Pun pernah menjadi perampok yang terkenal bergelar Brandal Lokajaya, namun karna sudah ada cap kewalian pada dirinya maka melalui proses proses tertentu yang sudah di rencanakan Alloh, maka akhirnya Brandal lokajaya menjadi sorang wali yang masyhur bergelar Sunan kalijaga/syeikh malaya.

Disisi lain ada kisah Kyai barseso seorang kyai yang sakti dan sholeh, penduduk langit (para malaikat) pun sampai terheran heran karna ribuan muridnya bisa terbang ke langit namun toh pada akhirnya sang kyai meninggal dengan proses yang buruk karna memang tidak ada stempel /cap kewalian untuk dia.

Mari belajar menata hati meluruskan niat

Merenung/tafakur .....

Sudah luruskah niat kita???

Menjalankan tasawuf / thoriqoh semata mata mengharap keridhoan Alloh swt,

Belajar menjadi hamba yang baik dan di ridhoi Alloh

Tahu tugas dan kewajiban seorang hamba kepada sang pencipta

HablumminAlloh

Hablumminan nas

Tahu mana yang dilarang dilakukan seorang hamba

Jangan mengharap kedudukan dan kemulyaan agama

Ingin di anggap sholeh dikalangan manusia

Ingin dipandang alim oleh mahluk

Sum'ah dan popularitas, semua itu akan memakan habis amal kebaikan kita seperti api memakan kayu bakar/ mari belajar rendah hati, melawan bisikan bisikan jahat

Ke ego an diri, kita ini lebih banyak dosanya daripada amalnya

AstaghfiruLLohal adhim

Naudzu biLlah min dzalik

Jangan bertasawuf / berthoriqoh karna mengejar derajat kewalian ataupun karomah

الهى انت مقصودى ورضاك مطلوبى

Carilah guru yang alim, waliyan wa mursyidan

Jangan berguru pada orang yang salah

Jika tidak tahu bertanyalah kepada orang yang tahu

Maka akan diberitahu dimana dia berada

Seorang wali mursyid belum tentu terkenal /diketahui secara umum

Belum tentu punya pesantren besar

Man jadda wa jada

Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka pasti akan berhasil

Alloh akan memudahkan jalan kepada hamba yang ingin sampai kepada Alloh

Semoga kita tidak termasuk golongan yang dimaksud dalam ayat berikut

وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيّاً مُّرْشِداً

Wa man yudlil falan tajida lahu waliyyan mursyida” (QS. Al Kahfi 17).

Barangsiapa mendapatkan kesesatan maka ia tidak akan menemukan

(dalam hidupnya) seorang wali yang mursyid(wali yang mursyid)

WAllohu a'lam

Silahkan di copas atau klik SHARE/BAGIKAN tanpa harus meminta ijin.

Salam santun, semoga bermanfaat

 Sumber : https://www.facebook.com/groups/amakalaudin/permalink/666219313429808/

Postingan populer dari blog ini

Amalan – Amalan Pada Hari Jum’at

Amalan – Amalan Pada Hari Jum’at Di antara 7 hari ada 1 hari yang sangat mulia yaitu hari Jum’at. Maka dihari ini sangat banyak kelebihan – kelebihan yang bisa kita kerjakan. Memang mengerjakan pekerjaan yang di Ridha oleh Allah sangatlah berat karena banyak rintangan mulai dari yang ada pada diri kita yaitu hawa nafsu juga adanya godaan syaitan yang keduanya sangat menyukai yang enak – enak saja dan berlawanan apa yang diperintahkan oleh Allah. Begitu pula amal kebaikan apa yang telah kita kerjakan walaupun itu sangat banyak jika diakhir hidup kita tidak dalam iman sangatlah sia – sia ( Na’udhubillahiminzalik ). Kita tau bahwa itu semua Allah yang lebih mengetahui dan itu semua sudah ada di Azali tapi kita hanya berusaha agar amalan yang telah kita kerjakan tidak sia – sia. Maka dari itu di hari yang mulia ini kita biasakan membaca dua ( 2 ) bait sya’ir berikut ini yang sudah termasyhur dikalangan ‘Ulama besar seperti Rabia’atul ‘Adawiyyah dan Abu Nawas. Dan telah berkata Sya...

Penyesalan Selalu Datang Di Akhir

Sebuah isi hati seorang manusia   yang sudah merasakan yang namanya penyesalan.  “ Dulunya saya pikir saya tidak menyesal kalau ini jalan yang aku pilih, tetapi ngak seperti yang saya kira, semua berbeda yang ada dipikiran saya. Saya yang sudah memasuki umur ke – 22 dan hampir memasuki 23 sudah terasa menyesal, karena dulunya saya ingin kuliah dan ingin jadi orang sukses tetapi sesudah tamat kuliah saya berubah pikiran untuk tidak ingin menjadi orang yang sukses di dunia saja, tapi keinginan saya untuk memikirkan kehidupan akhirat yaitu saya ingin pergi mengaji di dayah/pesantren yang jauh dengan kampung untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat di akhirat nanti. Mengingat orang tua yang telah mengeluarkan banyak uang untuk membayar uang kuliah saya jadi sedih,…:’(      coba kalau saya ngak kuliah kan ngak habis banyak uang segitu. Saya ingin sekali membalas jasa orang tua saya, tapi itu sangat susah bagi saya karena itu pun ngak akan sanggup saya balas...