Langsung ke konten utama

Masuk Surga Tanpa Hisab

Dinukil dari kitab Tambihul Ghofilin
وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا، قَالَ: إِذَا جَمَعَ اللَّهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ نَادَى مُنَادٍ أَيْنَ أَهْلُ الْفَضْلِ، فَيَقُومُ عُنُقٌ مِنَ النَّاسِ يُرِيدُونَ الْجَنَّةَ، فَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ فَيَقُولُونَ: أَيْنَ تُرِيدُونَ؟ فَيَقُولُونَ: نُرِيدُ الْجَنَّةَ، فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ: أَقَبْلَ الْحِسَابِ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ قَبْلَ الْحِسَابِ، فَيَقُولُونَ: مَنْ أَنْتُمْ؟ فَيَقُولُونَ: نَحْنُ أَهْلِ الْفَضْلِ فَيَقُولُونَ: مَا كَانَ فَضْلُكُمْ فِي الدُّنْيَا؟ قَالُوا: إِنَّا كُنَّا إِذَا جُهِلَ عَلَيْنَا حَلُمْنَا، وَإِذَا أُسِيءَ إِلَيْنَا عَفَوْنَا، فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ.
{فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ} [الزمر: 74] ،
Diriwayatkan dari Ali bin Husain -semoga Allah meridhoi keduanya- berkata :
" ketika Allah mengumpulkan semua manusia mulai dari yg awwal sampai yg akhir, maka ada malaikat yg memanggil -manggil :
" dimanakah ahlul fadhli /pemilik keutamaan ? "
kemudian ada orang2 yg berdiri ingin masuk syurga, malaikat menemui mereka dan berkata :
" kalian mau kemana ?"
ahlul fadhli : "syurga"
malaikat : " apakah sebelum dihisab ?"
ahlul fadhli : " benar, sebelum dihisab."
malaikat : " siapakah kalian ?"
ahlul fadhli : " kami adalah ahlul fadhli."
malaikat : " apa keutamaan kalian di dunia ?"
ahlul fadhli : " sesungguhnya ketika kami di dibodohi maka kami bersabar dan murah hati, dan ketika kami disakiti maka kami mengampuni "
malaikat : " masuklah kalian ke syurga , maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal "
ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ أَيْنَ أَهْلُ الصَّبْرِ؟ فَيَقُومُ عُنُقٌ مِنَ النَّاسِ يُرِيدُونَ الْجَنَّةَ، فَتَقُولُ لَهُمُ الْمَلَائِكَةُ: أَيْنَ تُرِيدُونَ؟ قَالُوا: نُرِيدُ الْجَنَّةَ.
فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ: أَقَبْلَ الْحِسَابِ؟ قَالُوا: نَعَمْ، فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ: مَنْ أَنْتُمْ؟ قَالُوا: نَحْنُ أَهْلُ الصَّبْرِ، فَتَقُولُ: وَمَا كَانَ صَبْرُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: صَبَّرْنَا أَنْفُسَنَا عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ، وَصَبَّرْنَاهَا عَنْ مَعَاصِي اللَّهِ.
فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ.
{فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ} [الزمر: 74] ،
kemudian ada malaikat yg memanggil - manggil :
" dimanakah ahlus shobri /pemilik kesabaran ?"
kemudian ada orang2 yg berdiri ingin masuk syurga, malaikat berkata kpd mereka :
" kalian mau kemana ?"
ahlus shobri : " kami ingin masuk ke syurga "
malaikat : " apakah sebelum di hisab ?"
ahlus shobri : " benar "
malaikat : " siapakah kalian ?"
ahlus shobri : " kami adalah ahlus shobri/pemilik kesabaran "
malaikat : " apa kesabaran kalian itu ?"
ahlus shobri : " kami bersabar atas diri kami sendiri dalam menjalankan ketatan kpd Allah dan kami bersabar atas diri kami sendiri dalam menjauhi ma'siyat kpd Allah "
malaikat : " masuklah kalian ke syurga , maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal "
ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ أَيْنَ جِيرَانُ اللَّهِ فِي دَارِهِ، فَيَقُومُ عُنُقٌ مِنَ النَّاسِ يُرِيدُونَ الْجَنَّةَ، فَتَقُولُ الَمَلَائِكَةُ: أَيْنَ تُرِيدُونَ؟ فَيَقُولُونَ: نُرِيدُ الْجَنَّةَ. فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ: أَقَبْلَ الْحِسَابِ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ.
فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ: مَنْ أَنْتُمْ؟ فَيَقُولُونَ: نَحْنُ جِيرَانُ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ.
فَيَقُولُونَ: وَمَا كَانَ جِوَارُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: كُنَّا نَتَحَابُّ فِي اللَّهِ، وَكُنَّا نَتَبَادَلُ فِي اللَّهِ، وَكُنَّا نَتَزَاوَرُ فِي اللَّهِ، فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. {فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ} [الزمر: 74]
kemudian ada malaikat yg memanggil - manggil :
" dimana para tetangga Allah di rumah-Nya ?"
kemudian ada orang2 yg berdiri ingin masuk ke syurga,malaikat berkta kpd mereka :
" kalian mau kemana ?"
" kami mau kesyurga. " jawab mereka.
malaikat : " apakah sebelum dihisab ?"
" benar " jawabnya.
malaikat : " kalian ini siapa ? "
" kami adalah tetangga Allah di bumi-Nya "
malaikat : " apa yg menjadikan kalian sebagai tetangga Allah ?"
mereka menjawab : " kami saling mencintai kareNA allah, kami saling berbagi karena Allah dan kami saling berkunjung karena Allah "
malaikat : " masuklah kalian ke syurga , maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal "
(az zumar ayat 74)
wallohu a'lam.
تنبيه الغافلين
للسمرقندي

Sumber : https://www.facebook.com/PeengajianNahwuDanTasawuf/posts/365592730309222

Postingan populer dari blog ini

Imam Junaid Al-Baghdadi

Junaid Al-Baghdadi, Ulama Sufi Yang Bertasauf Mengikuti Sunnah  Junaid Al-Baghdadi adalah seorang ulama sufi dan wali Allah yang paling menonjol namanya di kalangan ahli-ahli sufi. Tahun kelahiran Imam Junaid tidak dapat dipastikan. Tidak banyak dapat ditemui tahun kelahiran beliau pada biografi lainnya. Beliau adalah orang yang terawal menyusun dan memperbahaskan tentang ilmu tasauf dengan ijtihadnya. Banyak kitab-kitab yang menerangkan tentang ilmu tasauf berdasarkan kepada ijtihad Imam Junaid Al-Baghdadi. Imam Junaid adalah seorang ahli perniagaan yang berjaya. Beliau memiliki sebuah gedung perniagaan di kota Baghdad yang ramai pelanggannya. Sebagai seorang guru sufi, beliau tidaklah disibukkan dengan menguruskan perniagaannya sebagaimana sesetengah peniaga lain yang kaya raya di Baghdad. Waktu perniagaannya sering disingkatkan seketika kerana lebih mengutamakan pengajian anak-anak muridnya yang dahagakan ilmu pengetahuan. Apa yang mengkagumkan ialah Imam Junaid akan m...

Gara-gara Roti, Seorang Raja Menjadi Sufi

Kisah pertobatan Raja Balkh (Iran) Abu Ishaq Ibrahim bin Adham berawal dari keinginannya untuk berburu. Bersama kuda kesayangannya, Ibrahim menuju hutan dengan penuh gairah. Keadaan berlangsung normal hingga ketenangannya diusik oleh seekor gagak. Ibrahim sesungguhnya hanya ingin istirahat sejenak. Melepas lelah perjalanan sembari memakan roti. Sialnya, Ibrahim tak sempat mencicipi sedikit pun bekal bawaannya itu. Seekor gagak datang tiba-tiba menyambar roti, lalu membawanya terbang ke udara. Ibrahim yang kaget bercampur kagum itu memutuskan untuk mengikuti ke mana gagak pergi. Si burung hitam meluncur cepat ke arah gunung, hingga Raja Balkh nyaris saja tak menemukannya lagi. Tapi tekad Ibrahim bin Adham untuk menaklukkan segala rintangan gunung membuatnya tak kehilangan jejak. Tapi gagak tetaplah gagak. Jerih payah sang raja untuk mendekatinya mendapat penolakan. Sekali lagi, gagak mengudara, kabur menghilang entah ke mana. Di saat bersamaan, Ibrahim bin Adham men...